Postingan

The Journey : Monitoring Lazismu (Part 1)

Gambar
Hello, aku mau cerita perjalanan lagi. Akhirnya after years aku melakukan perjalanan lebih dari sehari. Senang sekali rasanyaa, apalagi kali ini tidak hanya satu destinasi. Ada tiga daerah daan semuanya butuh lebih dari satu jam untuk bisa sampai di satu tempat ke tempat lainnya. Sebetulnya ini perintah kerja, tapi tetep aja bahagiaa. Aku bersama tim aku (Mbak Jeni, Fajar, dan Mas Deni) harus keliling ke Labuhan Maringgai (Lampung Timur), Muara Sungkai (Lampung Utara), dan Bahuga (Way Kanan) untuk melakukan monitoring dan evaluasi pemotongan hewan kurban dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Mulanya aku bimbang harus berangkat ke destinasi sebanyak ini, karena pasti akan membutuhkan waktu lebih dari sehari. Kondisi pandemi bikin aku jadi was-was kalau harus bepergian dan ketemu banyak orang karena ada mbah di rumah yang jadi golongan rentan terpapar Covid-19. Long story short, aku akhirnya bersedia dan diizinkan pergi sama Bapak untuk bertugas. Soo happy. Momen bepergian seperti i...

The Journey : Packing ala Nadiya

Gambar
Aku terinspirasi Windy Ariestanty melalui salah satu tulisannya, bahwa hidup itu seperti proses packing ketika akan melakukan perjalanan. Kita harus memilah dan memilih barang apa saja yang harus dibawa seperti kita memilih siapa saja yang kita izinkan masuk ke dalam kehidupan kita. Barang barang yang kita bawa pun diklasifikasikan lagi penting nggak pentingnya, misalnya aku, bawa buku jauh lebih penting buat aku daripada bawa pakaian lebih. Dibaca atau nggak dibaca, pokoknya harus bawa. Prinsip ini juga sama dengan prioritas hidup. Ada hal-hal yang harus kita pertahankan, ada juga beberapa hal yang harus kita relakan ketidakberadaannya. Menata barang di dalam tas atau koper pun ada tekniknya, salah-salah bisa gak cukup dan bahkan bisa merusak. Dalam hidup pun, kita punya kuasa penuh atas hidup. Menatanya sedemikian rupa agar terasa pas untuk dijalani, memutuskan meletakkan masalah ini di lokasi yang mudah dijangkau ataukah diselipkan di kantong tambahan sebagai usaha melupakan. Kita h...

Aku dan Muhammadiyah

Gambar
Hari ini, 18 Juli 2021 atau bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1442 merupakan hari bersejarah karena ada dua milad yang terjadi dalam satu hari. Milad Muhammadiyah ke-112 dan Milad IPM ke-60. Tulisan di blog ini hanya cerita lepas mengenang masa lalu bersama Muhammadiyah sebagai ucapan terima kasih saja si, sekaligus merayakan momentum milad dua organisasi ini. Lihat teman-teman di Twitter asik sekali pamer cerita selama di IPM, membuat aku menyadari kalau aku gak ada kenangan berarti di IPM wkwk. Tapi tetep, lahir dari keluarga Muhammadiyah, membuat aku menganggap Muhammadiyah sebagai bagian dari hidupku. Dan memang benar. Hampir seluruh usiaku, aku habiskan dengan menjadi bagian dari Muhammadiyah. Hingga pada akhirnya, aku bisa simpulkan Muhammadiyah adalah komponen penting yang menemani proses aku tumbuh jadi dewasa. Makanya aku gatel mau cerita juga, tapi keterbatasan karakter di Twiiter bikin gak bebas ngoceh. Briefing Volunteer Lazismu Kenangan pertamakali interaksi aku dengan Muhamm...

Jika Tuhan Maha Mendengar, Untuk Apa Kita Berdo'a?

Gambar
Aku buat tulisan ini tujuannya tidak untuk menggurui siapapun. Hanya sebuah refleksi diri dan upaya kilas balik atas perjalanan menemukan sesuatu. Pun jika kamu yang baca ini mengharapkan isinya akan sangat relijius, mohon maaf you will not find it. Mungkin akan ada beberapa ayat al-Qur'an, tapi banyak lainnya adalah murni cerita dan perspektifku sendiri. Aku juga tidak menulis ini untuk memberitahu bahwa apa yang aku lakukan sudah benar dan sempurna. Aku hanya menguji kemampuanku untuk mendeskripsikan perubahan yang terjadi padaku.  Pertanyaan "Jika Tuhan Maha Mendengar, untuk apa berdo'a?" pernah muncul dari diriku sendiri bertahun-tahun yang lalu. Seiring berjalannya waktu dan aku sudah melewati berbagai proses untuk dilalui, aku mulai bisa menjawab pertanyaan nakal itu. Ini sebuah proses yang cukup panjang, yang cocok disandingkan dengan frasa "biar waktu yang menjawab". Pada masanya, aku merasa bahwa terpikirkan pertanyaan seperti itu bahaya untuk kelan...

Perjalanan ke Utara

Gambar
Tugu Payan Mas, ikon Kotabumi Terlahir jadi manusia biasa membuat aku harus meninggalkan sesuatu yang bisa jadi tanda keberadaanku setelah aku mati nanti. Alasan yang selalu jadi  force majeur  atas hal-hal yang aku simpan dalam tulisan adalah : aku ingin abadi. Dan pilihan paling mudahnya adalah meninggalkan cerita dari setiap kejadian. Termasuk tulisan yang sentimentil ini. Jangan sampai nggak terabadikan deh pokoknya. ... Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah,  Ikhlas beramal dalam bakti Gemilang sinar surya,  Menyinari fajar harapan ... (Kotabumi, Maret 2021) Jadi, sampai hari ini potongan Hymne IMM masih sangat terasa mengharukan saat dinyanyikan. Liriknya jadi saksi perjalanan yang aku tidak pernah sangka akan aku temui dalam hidupku. Ketika upacara penutupan kegiatan, air mata kami para instruktur (dan beberapa peserta) nggak bisa ditahan lajunya. Kalimat "ikhlas beramal dalam bakti" betul-betul menjadi puncak sihir yang menimbulkan perasaan magis. Membuat k...

Untuk Sakura

Gambar
Tempat sampah di Jepang Jam 17.43 WIB di Lampung Selatan saat aku menulis ini Tadi pagi, ada status isi salju lewat di aplikasi Whatsappku. Datangnya dari status Mbak Ummu, salah satu seniorku di UKM Tapak Suci yang sekarang sedang menempuh studi doktoral di NAIST (Nara Institute of Science and Technology). Kondisi hujan membuat efek dinginnya salju bisa dirasakan langsung. I feel the temperature, I feel the excitement dari bagaimana Mbak Ummu bersuara lewat video dan bagaimana Mbak Ummu dan temen-teman langsung turun ke bawah menyambut turunnya salju. Btw, salju kali ini spesial katanya, karena ini adalah salju tebal pertama di NAIST setelah yang terakhir ada di tahun 2012.  Tujuan nulis ini cuma buat mengisi waktu sambil menunggu Maghrib aja sii hehe. Intinya ini adalah kilas balik sedikit memori yang pernah aku lewati bareng Mbak Ummu (btw, aku ndak tau how to spell her name correctly). Selain itu, aku butuh pencitraan di hadapan Google. Aku juga ada tulisan yang dipost lhoo, wa...

Untuk Sisna

Gambar
Kudus yang dijuluki Kota Kretek sepertinya memang dilahirkan spesial. Ceritanya bermula ketika sekolah dasar aku belajar IPS dan salah satu bahasannya adalah masjid yang memiliki arsitektur menyerupai candi. There is a sparkling joy when I heard the story. Sampai akhirnya belasan tahun kemudian, aku ditakdirkan menginjakkan kakiku di Tanah Kudus. Bagi seorang pejalan sepertiku, jarang sekali menjadikan destinasi sebagai daya tarik utama. Tapi Kudus berbeda. Ada sesuatu yang magis menyusup masuk ke rongga dada ketika menyadari aku ada di tanah yang masjidnya aku kagumi bertahun tahun yang lalu. Tapii kali ini bukan Kudus yang akan aku bahas. Mungkin lain waktu.  Tulisan ini buat Sisna, gadis Jepara (dulunya) tapi kuliah dan berorganisasi di Kudus. Sepuluh hari yang lalu Sisna melangsungkan pernikahan dengan lelaki yang-bisa jadi dia tidak sadar-ditunggu selama ini. Jadi aku bermaksud memberi ucapan selamat yang agak panjang sebagai pengganti kehadiranku. Ah mungkin juga ini bukan uc...