The Journey: Palembang dan Garis Hidup

 

Jembatan Ampera, 6 April 2026

Sembari mendengarkan Risk It All dan My Way dengan putaran berulang, meninggalkan Palembang kali ini rasanya berbeda dan harus kuabadikan dalam tulisan. Setidaknya sampai hari ini Sumatera Selatan jadi satu-satunya provinsi di pulau Sumatera yang pernah aku kunjungi–selain provinsi kelahiranku tentunya. Rasanya pas sekali momentumnya untuk merayakan aku yang 10 tahun lalu untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Kota Palembang.

5 Agustus 2016, segerombolan traveler amatir menaiki angkutan umum dari Stasiun Kertapati menuju Palembang Indah Mall. Di malam yang sama, salah satu dari mereka sadar kalau telepon genggamnya hilang diambil copet. Akulah orang itu. Kedatangan kami ke Palembang membawa misi nonton kejuaraan Pencak Silat, tidak disangka malah menemukan pelajaran. Tapi satu hal itu cuma satu dari banyak cerita soal Palembang yang –aku juga tidak menyangka–10 tahun kemudian cerita soal kunjungan ke Palembang masih tetap romantis untuk dibayangkan.

5 April 2026, aku kembali menghirup udara di tepian Sungai Musi bersama orang-orang yang berbeda dan diriku yang juga sudah berbeda. Dalam prosesnya, untuk kembali bisa menikmati perjalanan dengan segala hal romantis–dan tragis di dalamnya ternyata ada usaha yang diam diam aku lakukan. Usahanya sederhana: tetap hidup biar bisa jalan-jalan.

Kalau diingat lagi, koleksi takut, khawatir, kecewa, marah, ragu, dan perasaan tidak nyaman lain yang kualami saat ke Palembang terakhir kali jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu. Tapi kalau boleh dibilang, makna yang kudapat justru lebih dalam dan lebih terasa membahagiakan. Tau gak kenapa? Karena kamu tau perjalananmu yang hari ini gak terjadi begitu saja. Ini terjadi setelah entah berapa tangis, tawa, cinta, duka yang sudah kamu laluiyou faced it all and you stood tall 

I've loved, I've laughed and cried, I've had my fill - my share of losing. But now, as tears subside, I find it all so amusing.

(Frank Sinatra - My Way) 

My Way-nya Frank Sinatra adalah lagu yang paling bisa bikin aku menangisliterallybecause to own your way is the biggest luck in life setidaknya buat aku yang seringkali merasa tidak punya pilihan dalam hidupku. Lagu ini seperti pengingat bahwa hidup tu ya gak papa kalo isinya gak cuma bahagia dan bertahan adalah cara terbaik yang sudah kamu pilih. Dipikir-pikir iya juga ya, hidup emang kadang ada sedihnya, ada kecewanya, ada takutnya, tapi kan ada jalan-jalannya juga wkwk. Karenaeach and every highway...I did it my way. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan keberhasilan melihat diri ini berhasil melewati semua hal dengan caranya sendiri. 

Perubahan lain dari Palembang-ku terakhir ini dan sepuluh tahun lalu adalah soal kacamataku yang sekarang fokusnya sudah berubah. Dari aku yang dulu meletakkan orang lain sebagai prioritas, menjadi aku yang sekarang dengan kesadaran penuh memilih aku sebagai pemeran utama dan prioritas pertama. Hari ini, ngomongin ini terdengar sepele dan aku bisa banget sambil senyum-senyum ngatain diriku yang dulu susah banget untuk put aside others and think only about myself. Padahal kalo boleh dibilang, usahaku untuk sampe di level ini ya gak main-main, kayak potongan lirik Risk It All yang ini:

I would run through a fire. Just to be by your side...It's crazy, but it's true. There's nothing I won't do. I'd risk it all for you

(Bruno Mars - Risk It All) 

Dulu, ada kalanya aku menolak fakta bahwa kita boleh banget mempertimbangkan diri sendiri ketika harus mengambil keputusan. Ada kalanya aku merasa aku hadir hanya sebagai 'garnish' di kehidupan orang lain dan harus bisa merasa bahagia saat orang lain bahagia *cry. Saking terbiasanya, aku beneran harus 'run through fire' untuk pada akhirnya sadar kalo itu salah, dan memutuskan untuk berubah. Proses berubahnya juga gak main-main susahnya oy. Tapi kalo ditengok lagi sekarang, gak nyesel sih udah 'risk it all' because...  

I succeed, guys! Aku berhasil ketemu sama aku dan segala rupa baik buruk di dalamnya. Aku berhasil menghargai pencapaian kecilku, juga berhasil menyediakan ruang untuk perasaan tidak nyaman. Siap menyambut keberhasilan yang lain, sambil ngirup cuko di Palembang atau kita ada-adakanlah 'Palembang' yang lain itu yaa

p.s. berikut dokumentasi Palembang 2016 dan 2026 xixixi

My Ampera perfectly shots by Mba Luna

Menurut kita lu dulu pasti merasa keren bisa pose begitu kan...

Gelora Sriwijaya, 2016

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2023: Final Review

Aku dan Buku

The Journey: Bali, Semarang, dan Rangkuman Kenangan